Showing posts with label Lingkungan Hidup. Show all posts
Showing posts with label Lingkungan Hidup. Show all posts

Thursday, April 23, 2015

Sebagian Populasi Paus Bungkuk Tidak Lagi Tergolong Binatang Langka


Paus bungkuk (megaptera novaeangliae) selama ini tergolong dalam daftar kelompok binatang langka yang terancam punah.  Menurut Badan Administrasi Kelautan Nasional AS (National Oceanic and Atmospheric Administration/NOAA) paus bungkuk dapat dikalsifikasikan dalam 14 kelompok populasi yang berbeda. Dan ternyata dari 14 kelompok populasi ini ada 10 kelompok diantaranya yang dapat dikategorikan aman dan  tidak terancam kepunahan.

Menurut Eileen Sobeck dari NOAA,  setelah mempelajari lebih dalam seputar spesies ini, mereka menemukan bahwa kelompok-kelompok populasi pasu bungkuk ini terpisah secara mandiri satu sama lain sehingga mereka dikelompokkan secara terpisah untuk memberikan kesempatan untuk fokus pada aktifitas perlindungan terhadap kelompok populasi mana yang paling membutuhkan.

Upaya perlindungan dan restorasi paus bungkuk selama ini menurut NOAA telah mendorong terjadinya peningkatan populasi paus bungkuk di berbagai daerah.

Berdasarkan itulah pemerintah AS telah mengajukan proposal yang mengusulkan agar sebagian besar kelompok populasi hewan ini tidak lagi tergolong dalam daftar binatang langka.

Dalam proposal yang diajukan ini ada dua kelompok populasi yang dikategorikan terancam punah, yaitu populasi paus bungkuk di Amerika Tengah dan Pasifik Utara bagian barat. Dua kelompok lainnya yaitu populasi yang ada di Laut Arab dan populasi di lepas pantai Cape Verde dan Afrika barat laut tetap masuk dalam kelompok binatang langka.

Meskipun proposal ini lolos, kelompok-kelompok populasi yang dikeluarkan dari daftar binatang langka ini akan tetap mendapatkan perlindungan di bawah Undang-undang AS mengenai Perlindungan terhadap Mamalia Laut.

Untuk menguji proposal yang diajukan ini, masyarakat diberikan waktu selama 90 hari untuk memberikan komentar mereka seputar rekomendasi baru ini.

Saturday, October 29, 2011

Pohon Evolusi Mollusca Berhasil Dibuat

Casey Dunn, pakar evolusi dari Brown University, AS, berhasil mengembangkan pohon evolusi mollusca atau hewan bertubuh lunak. Pohon evolusi adalah suatu bagan yang menunjukkan relasi antara satu spesies dengan spesies lainnya secara evolusioner.

Pohon evolusi mollusca yang berhasil dikembangkan itu menjadi gambaran kekerabatan mollusca pertama yang paling lengkap dan dipublikasikan di Jurnal Nature. Untuk mengembangkan pohon evolusi itu, Cunn mengambil sampel beragam jenis mollusca. Selanjutnya, tim menganalisa susunan gen pada tiap spesies dan membandingkannya satu sama lain.

Hasil studi ini telah menempatkan golongan mollusca laut dalam yang disebut Monoplacophora. Jenis ini sebelumnya diduga punah hingga ditemukan pada tahun 1952 di pantai Meksiko. Studi jenis Monoplacophora dilakukan dengan spesimen yang ditangkap selama ekspedisi tahun 2007 oleh tim yang dipimpin oleh Nerida Wilson, juga tergabung dalam penelitian ini.

Setelah ekstraksi DNA, tim mendapatkan hasil bahwa Monoplacophora memiliki kekerabatan dengan grup mollusca yang disebut Cephalopoda, meliputi gurita dan cumi-cumi. "Cephalopoda sangat berbeda dengan mollusca lain, sangat sulit dimengerti bagaimana mereka bisa memiliki kekerabatan. Mereka berbeda dengan yang lainnya," ungkap Dunn.

Cephalopoda secara umum adalah jenis mollusca yang memiliki kaki di kepala danhttp://www.blogger.com/img/blank.gif tidak memiliki cangkang. Beberapa cephalopoda memiliki kantung tinta dan tentakel.

"Sekarang kita mengetahui bahwa ada dua grup paling berbeda dalam mollusca ternyata bersaudara," ungkap Dunn seperti dikutip situs ScienceDaily, Rabu (26/10/2011).

Berdasarkan hasil penelitian, ilmuwan juga mengungkapkan bahwa spesies yang tergabung dalam grup Cephalopoda atau Monoplacophora mungkin adalah nenek moyang mollusca, meski belum diketahui jenisnya.

Penelitian ini merupakan hasil kolaborasi dari banyak pihak. Selain Brown University, pihak lain yang terlibat adalah Harvard University dan Australia Museum. [Jasa pembuatan website]

International Year of Forest Dirayakan di Kiluan

BANDAR LAMPUNG, KOMPAS.com - Memperingati perayaan Tahun Kehutanan Internasional (Internasional Year of Forest) 2011, Yayasan Ekowisata Cikal Lampung mengadakan kemah gembira (fun camp) di kawasan ekowisata Teluk Kiluan, Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung, pada 29-30 Oktober ini.

Menurut Ketua Yayasan Ekowisata CIkal Lampung Rico Stefanus, Jumat (28/10/2011), kegiatan kemah ini akan diikuti sejumlah siswa SMP, OSIS dan Pramuka se-Lampung.

Acara yang bertujuan meramaikan perayaan Tahun Kehutanan Internasional 2011 yang dideklarasikan PBB ini akan dihadiri pula aktivis focal point dari United Nation Forum on Forest (UNFF).

Acara ini rencananya akan diwarnai pula dengan kegiatan penanaman bibit bakau di pesisir Teluk Kiluan dan penanaman pohon di Hutan Register 25 Gunung Tanggang, Tanggamus.

Anak-anak muda dan usia sekolah sengaja dijadikan sasaran peserta dari kegiatan ini dengan maksud menanamkan kesadaran soal kelestarian lingkungan hidup sejak dini. Kawasan wisata Teluk Kiluan selama ini dikenal dengan keindahan pantainya yang masih alami. Atraksi lumba-lumba liar menjadi salah satu daya tarik utamanya. (Jasa Web Design)

Badak Jawa Betina Tinggal Empat Ekor

KOMPAS.com — Dari 35-45 badak jawa yang diperkirakan masih hidup di Indonesia, jenis kelamin betina diperkirakan hanya tinggal empat hingga lima ekor. Hal ini diungkapkan Sekretaris Jenderal International Union for Conservation Nature (Sekjen IUCN) Simon an Stuart seusai diterima Wakil Presiden Boediono di kantornya di Jakarta, Rabu (26/10/2011).

"Tadi Wakil Presiden menerima Sekjen IUCN. Mereka mengungkapkan keinginan untuk membantu pelestarian badak jawa yang kini tinggal 35-45 ekor, dan persoalannya betinanya tinggal 4-5 ekor," kata Juru Bicara Wakil Presiden Yopie Hidayat kepada wartawan di Kompleks Istana Wapres, Jakarta, Rabu.

Yopie mengatakan, menurut IUCN, saat ini badak jawa yang merupakan jenis badak bercula satu hanya ada di Indonesia. Badak jawa yang sebelumnya juga ada di Vietnam telah punah setelah diburu.

IUCN, menurut Yopie, sangat prihatin dengan hal itu dan ingin membantu pelestarian badak jawa. Terlebih lagi, spesies badak ini hanya melahirkan satu badak, dengan masa kehamilan 16 bulan.

"Dengan hanya empat betina, ancaman kepunahan ini juga semakin nyata," kata Yopie. Selain itu, badak sumatera juga kini rawan kepunahan. Jumlah badak sumatera yang merupakan jenis badak bercula dua diperkirakan hanya tinggal 200 ekor.

Untuk itu, IUCN, dalam perbincangan tersebut, menawarkan bantuan sebesar 1,9 juta dollar AS per tahun untuk pelestarian badak, terutama badak jawa. Selain itu, IUCN juga mengusulkan kepada Pemerintah Indonesia untuk menggalang perhatian dunia terhadap masalah badak.

IUCN juga mengharapkan Indonesia berinisiatif untuk melakukan program pelestarian badak dengan menggandeng negara-negara yang kini masih memiliki habitat hewan berkulit tebal tersebut, seperti Malaysia, Nepal, dan India. Badak kini terancam punah akibat adanya perburuan manusia, terutama karena culanya yang digunakan untuk obat-obatan tradisional China. Cula badak dihargai mahal. Selain itu, habitatnya juga semakin menyempit.